Menilik Tren TI 2010


Menilik Tren TI 2010

Jutaan benda sekarang sudah terinstrumentasi. Semua benda saling terhubung via Internet, yang kini sudah semakin matang. Dan kita memiliki daya komputasi dan analitik canggih untuk mengubah gunungan data menjadi inteligensia. Lalu, apa yang akan dilakukan perusahaan teknologi dengan hal ini?

Salah satu perusahaan teknologi raksasa dunia, IBM memprediksi beberapa peluang tren IT yang akan berkembang dan dikembangkan oleh perusahaan IT tahun ini. Peluang tersebut akan menjadi market yang subur, termasuk perusahaan teknologi di Indonesia.

Saat ini, berbagai jenis perusahaan dan lembaga ingin memanfaatkan semua teknologi canggih di seluruh bagian organisasi mereka. Mereka ingin mengakses dan menyebarkannya dengan cara-cara baru. Termasuk pula mengintegrasikannya ke dalam proses dan operasi mereka. Akibatnya, ada penyatuan antara komponen fisik dan digital, termasuk memasukkan daya komputasi ke benda-benda yang tidak menyerupai komputer.

IBM membuat studi global yang berjudul ”The New Voice of The CIO”. Dalam studi ini disebutkan bahwa analitik dan optimalisasi bisnis menjadi keprihatinan utama dari para CIO dunia di waktu yang akan datang. Maksudnya analitik di sini adalah meraih keunggulan dari perusahaan lain dengan kemampuan prediksi (Predictive Analytics) yang baik.

Kemampuan prediksi ini menjadi amunisi yang sangat penting dan diperkirakan dapat menganalisa informasi pelanggan. Kemampuan ini menggunakan perhitungan algoritme rumit sehingga secara akurat bisa memprediksi penyebaran, perilaku, dan kebutuhan konsumen. Predictive analytics dan Customer Relationship Management (CRM) analytics diperkirakan akan mencapai tingkat pertumbuhan yang tinggi.

Selain bisnis CRM Analytics dan Predictive Analytics, teknologi yang akan berkembang adalah komputasi awan (Cloud Computing). Teknologi ini memang baru muncul, bahkan di Indonesia sendiri komputasi awan merupakan hal awam. Namun, dengan pesatnya pengguna online, seperti fenomena jejaring sosial, komputasi awan menjadi salat satu cara baru dalam pelayanannya.

Komputasi awan, secara sederhana, mengoptimalkan penggunaan server yang tidak terpakai secara maksimal, dengan cara memberikan jaringan dari satu server ke server lainnya. Artinya, terkadang kita tidak mengetahui dimana data kita tersimpan, bisa di London, New York, ataupun tempat lain di belahan dunia. Cara ini jauh lebih efektif dan efisien, karena mampu mengoptimalisasi penggunaan bank data.

Menurut studi IBM, komputasi awan memungkinan inovasi bisnis yang pesat dengan menghantarkan layanan komputasi yang mudah digunakan secara “on demand”. Hal ini membuat 60% dari beban kerja TI mereka bersifat awan.

Di Indonesia, meski teknologi komputasi awan masih dalam tahap awal, namun potensinya cukup besar. Akan tetapi, menurut President Director IBM Indonesia, Suryo Suwignjo, komputasi awan butuh pengenalan terlebih dahulu. Menurutnya, butuh penyesuaian untuk memasarkan teknologi semacam ini.

Tren lain dari studi IBM ini adalah go green. Teknologi ramah lingkungan juga menjadi konsen dari perusahaan-perusahaan TI. Pelanggan dan stakeholder utama lainnya seperti investor, mitra bisnis dan karyawan, secara ketat memonitor perusahaan dari sudut pandang lingkungan hidup. Hal ini dilakukan untuk menentukan pilihan konsumen dalam membeli, menanamkan investasi, bermitra, dan bekerja untuk siapa.

Selain analitik, komputasi awan, dan go green, teknologi lainnya adalah komputasi sosial. Saat ini organisasi-organisasi menyadari manfaat ekonomis dan bisnis dari Jejaring Sosial. Perusahaan-perusahaan, besar maupun kecil, mulai berfokus untuk memanfaatkan piranti lunak sosial dan mengembangkan media sosial di ruang perusahaan mereka. Di samping itu, mereka juga mengintegrasikan semua ini dengan komunitas publik dan yang disponsori perusahaan.

Menurut IBM, jejaring sosial telah mewujudkan berbagai manfaat bisnis, mulai dari menarik minat dan mendapatkan talenta terbaik dari berbagai komunitas virtual. Karena semakin banyak organisasi yang giat mengadopsi alat-alat jejaring seperti ini, dapat dipastikan bahwa jejaring sosial akan tetap eksis. Dan agar dapat meraih manfaatnya secara penuh, perusahaan harus memahami dimana letak tantangan dan peluangnya.

(Sumber: TEKNOPRENEUR/Ria)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s